Tuesday, November 26, 2013

Gebyar Pengurus FMSC


Ketua Baru, Pengurus juga harus baru dong.
Nah khusus banget buat ade-ade kece kita angkatan 49 yang ngantri daftar jadi pengurus ini, mungkin masih banyak yang bingung kan? Ada apa aja sih di kepengurusan FMSC  ini? Penasaran kan .. cekidot yuk ..

Untuk Kepengurusan tahun ini, ada beberapa divisi yang yang siap untuk 'melayani' Sendi nih selain para BPH .

1. Divisi PSDM (Pengembangan Sumberdaya Manusia)
Ada apa aja sih di PSDM ? Ngapain aja yaa kerjaannya?
"Berperan dalam peningkatan kapabilitas dan rasa kekeluargaan serta rasa saling memiliki antar pengurus dan anggota FMSC.
Sekaligus dapat meningkatkan prestasi, kreatifitas, serta inovasi pengurus"
Nah itu adalah bahasa formalnya. Kalau bahasa sederhananya sebenarnya PSDM itu seperti 'tonggak' nya dalam sebuah kepengurusan. Bisa dibilang, tanpa adanya PSDM semua acara ataupun kegiatan-kegiatan tidak akan berjalan sesuai rencana. Karena apa, PSDM-lah yang mengurus, menjalankan, memprogramkan seluruh agenda-agenda atau kegiatan serta acara penting di FMSC.
Contohnya seperti : Forman Cup, Malam Keakraban, Hedon bareng, Up Grading, Diklat dan lain sebagainya yang berhubungan dengan kekeluargaan, hubungan internal atau eksternal ke sesama anggotanya.

2. Divisi INFOKOM (Informasi dan Komunikasi)
Masih Perlu penjelasan nggak ya untuk divisi yang satu ini?
"Berperan dalam memberikan informasi terkait acara yang akan dan telah dilaksanakan
FMSC. Membuat press release dari setiap kegiatan yang telah dilakukan oleh
FMSC Menjalin komunikasi secara internal dan eksternal FMSC"
Simplenya, Infokom ini adalah tempat menampungnya berbagai informasi informasi penting ataupun nggak penting mengenai FMSC, bisa juga sebagai tolak ukur eksistensi FMSC itu sendiri. Nggak ada Infokom, kegiatan yang dilaksanakan FMSC nggak akan berjalan lancara juga (hehe).
Contohnya itu seperti yang sedang kawan-kawan baca sekarang ini lah salah satu bagian kerjaan dari Infokom :) tapi, nggak cuma sampai disitu aja, buat ade-ade yang mengaku kreatif dan siap membantu eksistensi FMSC ini, Infokom juga punya 'Big Project' yaitu Buletin dan FMSC Magazine (amin) dan beberapa tanggungajawab lain terkait dengan publikasi dan komunikasi lewat media sosial seperti twitter dan
facebook.

3. Divisi Keprofesian
Nah selain dua divisi yang telah disebutkan diatas, ada juga nih salah satu divisi unggulan yang cuma satu satunya, dan hanya dijumpai di FMSC. Apalagi kalau bukan divisi keprofesian.
Divisi keprofesian adalah divisi yang mengarah pada bidang ilmu keprofesiannya yang membawahi 4 Kelompok Studi (KS) yaitu Perencanaan Hutan, Hidrologi Hutan, Pemanfaatan Hutan, dan Sosial Ekonomi Hutan.
Kegiatan-kegiatannya atau kerjaan dari divisi keprofesian itu antara lain berhubungan dengan masing masing KS, seperti Aksi Lingkungan, BHR (Bina Hutan Rakyat), ESM (Ecological Social Mapping) dan hasil seminarnya.

Wah-wah pasti pada bingung kan mau masuk divisi mana? Jangan bingung jangan ragu, turuti kemauan hati dan berdasarkan basic ade-ade semua. Karena apapun divisinya kita tetap 'Satu' dalam FMSC, Semuanya sama sama memberikan kontribusi yang paling terbaik untuk FMSC.
Selamat Memilih :)

Saturday, November 23, 2013

"Sokola Rimba", Belajar Demi Pertahankan Hutan

Salah satu recomended film yang wajib ditonton oleh forester, mungkin sedikit menginspirasi buat kalian setelah mendengar nama Sokola Rimba. Bagaimana suatu kelompok yang begitu keras mempertahankan 'hutan' sebagai leluhur yang menjaga kehidupan mereka. Hingga begitu antipatinya mereka menutup diri dari dunia luar demi menjaga kelestarian tempat tinggal dan keberlangsungan anak cucu.




Mulai 21 November 2013 forester di Indonesia dapat menyaksikan film Sokola Rimba berdurasi 90 menit di bioskop. Film ini diangkat dari kisah nyata Saur Marlina “Butet” Manurung yang mengajar anak-anak rimba di hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi. Kisah itu diterbitkan Butet dalam buku berjudul Sokola Rimba.

Sang produser, Mira Lesmana mengatakan film yang memakan waktu 14 hari syuting itu menelan biaya sebesar Rp 4,6 miliar. Selain melibatkan 80 orang kru Orang Rimba, film ini juga melibatkan 35 kru film dari Jakarta, 15 kru dari Jambi. Syuting film 95 persen di Provinsi Jambi yakni di Kabupaten Merangin dan Tebo.
"Orang Rimba adalah masyarakat adat yang hidup berkelompok dan berpindah-pindah di pedalaman Jambi. Dengan memegang teguh adat-istiadat, mereka mencoba bertahan meski tanah tempat mereka berdiam tak serimbun dulu. Binatang buruan semakin langka. Orang-orang Rimba hanya bisa menatap ketika satu per satu pohon madu raksasa yang selama ini mereka keramatkan roboh dihajar gergaji mesin.
Segulung kertas berisi surat perjanjian yang kadung diberi cap jempol oleh kepala adat membuat mereka tak berdaya. Surat yang tak pernah mereka ketahui isinya lantaran mereka buta huruf itu jadi tameng bagi orang terang – sebutan bagi orang kota – untuk mengeksploitasi tanah leluhur mereka.
Butet, yang lahir pada 1972, bertekad membuat masyarakat Rimba menjadi pintar supaya tak gampang dibodohi. Tak sekedar membuat mereka melek huruf dan bisa berhitung. Dia juga menyelenggarakan pendidikan yang membuat Orang Rimba bisa “bersuara” dan memberdayakan diri. Tentu itu tak mudah. Bagi Orang Rimba, pendidikan merupakan hal tabu dan melanggar adat mereka. Butet tak pernah menyerah.
Tentu tak semua pengalaman Butet yang kaya warna di bukunya setebal 348 halaman itu divisualkan. Ada keterbatasan durasi. Inti film berpijak pada tokoh Butet dan Nyungsang Bungo, anak Rimba yang tinggal di Hilir Sungai Makekal. Dia adalah remaja cerdas dan serius ingin belajar. Dari Nyungsang inilah konflik dibangun.
Film ini diawali saat Butet, yang telah tiga tahun mengajar anak Rimba di hilir Sungai Makekal Ulu, terserang malaria. Dia pingsan di tepi sungai di tengah belantara dan ditolong seorang anak Rimba dari hilir. Inilah pertemuan awal Butet dan Nyungsang.
Nyungsang diam-diam memperhatikan Butet mengajar. Keinginan kuat untuk bisa membaca dan menulis mendorong Butet memperluas wilayah kerjanya ke hilir Sungai Makekal, tempat tinggal Nyungsang. Muncul masalah. Tidak hanya memanaskan hubungan Butet dengan atasannya. Butet juga mesti berhadapan dengan sikap sinis orang-orang Rimba di hilir yang menentang kehadirannya.
Butet diceritakan sebagai pekerja di Wanaraya, sebuah lembaga konservasi yang memberikan pendidikan alternatif bagi anak rimba. Tanpa disangka, perkelanaan Butet di tengah rimba itu berkembang menjadi tak sebatas kewajiban semata. Dia malah menjadi ‘abdi’ bagi ratusan anak rimba.
Dalam sebuah adegan tergambar ketegangan pecah. Menggetarkan wilayah rombong (kelompok) Tumenggung (tetua) Belaman Badai. Nyungsang bergegas menyongsong susudungan (pondok kecil) di jantung hutan Bukit Dua Belas, Jambi. Dengan wajah gusar, ia meluapkan kemarahan. ”Ke mano Bu Guru Butet pegi? Akeh ndok bolajor pado Bu Guru,” ujar Nyungsang meradang.
Anggota Orang Rimba yang masih remaja ini tidak bisa merima sikap Tumenggung Badai yang mengusir secara halus sang ibu guru. Dalam adat Orang Rimba, belajar atau sokola adalah pantangan. Mereka yakin, sokola akan mendatangkan bala, kutukan, bahkan kematian.
Bungo lari dari rombong-nya. Diam-diam ia menyusuri hutan demi ikut sokola. Di tangannya sudah ada pensil dan buku. Tapi masih saja ia ragu mengutarakan niat ingin belajar. Tekadnya itu dipantang oleh hukum adat. ”Bungo, ayo bolajor,” suara lirih Guru Butet mengajaknya bergabung belajar bersama anak rimba lainnya. Butet sadar dilema dalam diri Bungo yang terlanjur mencintai sokola, tapi juga terlahir untuk mencintai adat, kaum, dan tanah pusakanya.
Potret kehidupan Orang Rimba tersaji apik dalam film ini. Mulai dari kondisi hutan Orang Rimba yang dikepung kelapa sawit, gelondongan-gelondongan kayu bergelimpangan di sana-sini, hasil buruan yang makin berkurang seiring dengan masifnya pembabatan hutan, sampai pada transaksi ekonomi di pasar yang kerap menipu orang-orang rimba". (mongabay)
"Selamat menonton :)"

Friday, November 22, 2013

Mengenal Lebih (Jauh) Sosok Ketua Baru


"Yang pasti tegang dengan amanah yang besar ini, tapi ketegangan itu akan hancur ketika ada orang orang disamping yang mendukung sepenuh hati"-

Congratuliation untuk ketua baru kita, Sendi Yusandi. Temen temen, abang teteh, dan adik adik pasti penasaran banget kan sama ketua terpilih kita ini? Seperti apa beliau, bagaimana beliau, dan mengapa bisa terpilih. Kali ini khusus edisi 'mengenal lebih jauh sosok ketua baru kita'.

Pembawaan yang simple, menarik, kocak, dan cerdas lengkap menyatu dalam diri pria asal Cianjur, Cipanasa Jawa Barat ini. Sebelumnya mungkin tidak terpikirkan oleh Sendi hingga bisa sejauh ini maju menjadi ketua FMSC periode 2013/2014. Banyak pertanyaan pertanyaan yang diajukan dapat 'dipangkas' dengan singkat, padat dan nggak jelas (katanya) oleh pria mantan divisi medis BCR 2013 dan anggota IFSA ini.
Dengan pembawaan yang 'apa adanya' (Soraya 49) justru membuat kita tergugah untuk menimbang dan menilai kemurnian, keinginan, dan ketulusan visi serta misinya untuk membawa FMSC yang lebih inovatif. 

Seberapa besar keyakinan anda untuk terpilih menjadi ketua FMSC 2013? (Shantia 48)

"Secara fisik 99%,
Secara mental 15%, karena dengan berjalannya waktu dan didukung oleh teman teman yang mensuport saya, mental saya akan bertambah dengan sendirinya".

Apa strategi atau jurus terjitu anda untuk membawa FMSC kearah yang lebih baik lagi? (Fareza 47)

"Setiap orang pasti punya gaya dan caranya masing-masing, jika diungkapkan saat ini dan di forum terbuka seperti ini, bukan jurus atau strategi terjitu lagi namanya".

Bagaimana prioritas anda ketika nanti terpilih menjadi ketua, dengan agenda kegiatan lain diluar FMSC yang posisinya sama sama penting untuk anda? (Agung Kriswiyanto 46)

"Sebenarnya untuk prioritas itu tergantung segi kepentingannya sendiri, tapi karena saya menjabat sebagai ketua FMSC sudah pasti penting dan lebih memilih FMSC karena saya mempunyai amanah yang sangat besar disini. Terkecuali jika menyangkut urusan keluarga".

Gambaran pertanyaan diatas adalah salah sekian dari banyak pertanyaaan yang diajukan dan dijawab oleh Sendi. 

"Masa muda adalah masa yang berapi-api" (Sendi Yusandi 2013)

(Donny 48), Sebagai partner yang pernah bekerjasama dengan Sendi, Sendi sangat memiliki potensi yang luar biasa yang tidak terlihat atau belum nampak dan cocok untuk menjadi ketua FMSC. Terbukti dengan acara diklat FMSC kemarin, dia bisa menghandle semuanya dan menyelesaikan tepat waktu serta disamping itu, dia memiliki prestasi akademik yang bisa dibilang sangat cukup baik. Ini benar benar terbukti Sendi bisa memanage dirinya dengan sangat baik. 

(Lingga 48), Sendi itu orangnya "action", tidak pernah mengeluh dan semuanya langsung dikerjakan tanpa banyak bicara.

(Arief 48), Sendi itu cerdas dan efisien, saat dia dihadapkan pada satu masalah dia tidak perlu berpikir panjang dan muter-muter, tapi langsung tepat sasaran dengan metodenya sendiri.

(Amir 47), Kecerdasan Sendi itu nampak ketika dia tanpa diminta mampu menguraikan poin-poin saat dihadapkan pada satu keadaan.

Pembawaannya yang comfortable, humoris dan supel bisa masuk dan menyatu dengan semua golongan menjadi poin plus sendiri bagi diri Sendi. Karena sosok ketua adalah mengenal penuh seluruh anggotanya dan bisa menciptakan zona nyaman bagi siapa saja yang berada didekatnya.


MUBES FMSC 2013/2014




Kepengurusan FMSC Periode 2012/2013 tidak terasa sudah diujung waktu, satu tahun mengemban amanah dirasa sangat singkat oleh ketua FMSC 2012/2013 Fareza Ditya Arianto. "Sudah saatnya pergantian kepengurusan, satu tahun mengemban amanah banyak meninggalkan 'bekas' perjalanan yang sulit hilang bersama teman-teman pengurus, tidak pernah ada kata 'berakhir' menjadi bagian dari FMSC".
Mubes yang dilaksanakan selama dua hari 19-20 November 2013 ini mengikutsertakan seluruh keluarga besar Manajemen Hutan, turut hadir sebagai peserta mubes ini senior-senior hingga adik-adik 49 yang baru saja menjadi bagian dari FMSC. Agenda yang lebih dulu dimulai dengan pembahasan LPJ (Laporan Penanggung Jawaban), ternyata sedikit mengulik serintil kenangan-kenangan pengurus selama pelaksanaan kegiatan kegiatan FMSC, seperti Aksi Lingkungan, ESM (Ecological Social Mapping), BHR (Bina Hutan Rakyat), DIKLAT FMSC, dan lain sebagainya. Banyak kenangan kenangan manis dan pahit, susah senang dengan kendala kendala  yang telah dilewati selama satu tahun belakangan ini, menaburkan rasa haru dimata 'mantan' ketua dan seluruh pengurus juga peserta mubes yang hadir, yang kemudian dilanjutkan dengan agenda pembahasan AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) untuk periode 2013/2014 yang di pimpin oleh Dewa Presidium Pemimpin Sidang Ren Giat Bagus Permana angkatan 48. H-1 pelaksaan mubes berjalan dan berakhir dengan lancar tidak menemukan kendala yang cukup berat, seluruh peserta bebas berpendapat untuk menuju FMSC yang lebih baik nantinya. Jika dibandigkan dengan AD/ART periode sebelumnya, terdapat sedikit perubahan, salah satu diantaranya adalah masalah keanggotaan FMSC, disini alumni dapat mendaftarkan diri menjadi anggota luar biasa di FMSC dan ikut berperan serta dalam pelaksanaan kegiatan kegiatan . 

Tibalah saat yang dinantikan, untuk melanjutkan posisi ketua FMSC periode 2013/2014 selanjutnya. Dua nama yang mencalonkan diri untuk maju sebagai calon ketua FMSC 2013/2014 adalah Sendi dari angkatan 48 dan Helmi dari angkatan 49. Kedua calon sama sama kuat dan memiliki kekurangan dan kelebihan yang sebenarnya bisa saling melengkapi satu sama lain. Akan tetapi dari semua yang terbaik tentu akan terpilih satu yang paling terbaik diantara yang terbaik. Pemilihan dilaksanakan secara musyawarah, bijaksana, dan seksama. Peserta mubes benar-benar memikirkan, menimbag, dan memutuskan dengan beberapa pertimbangan dan penilaian lewat jawaban jawaban pertanyaan yang diajukan. Segelintir perdebatan yang mewarnai jalannya musyawarah ini, berjalan dengan sportif dan lancar, dan pada akhirnya semua mengarah pada satu suara menuju FMSC lebih baik

Selamat untuk ketua FMSC terpilih periode 2013/2014, "SENDI YUSANDI "


Serah terima jabatan kepada ketua FMSC terpilih, Sendi Yusandi

Tuesday, November 19, 2013

Malam Keakraban FMSC

"Saya Mengerti Selera Anda" (Ahmad Budiaman 2013)

 Malam Keakraban FMSC kali ini benar benar mendatangkan langsung guest star yang sangat berperan penting bagi kelangsungan FMSC yaitu selamat untuk Kadep baru MNH Bapak Ahmad Budiaman atau biasa akrap disapa Pak Abud yang secara resmi telah menjadi Kepala Departemen baru Manajemen Hutan. Agenda malam keakraban diisi dengan saling sharing gagasan-gagasan, masukan, ide, keluhan, ataupun kendala yang telah dan akan dilewati kedepannya antara all angkatan crew FMSC 46-47-48-49 dengan Kepala Departemen Pak Abud untuk kemajuan FMSC yang lebih baik, disertai 'jajanan' khas rakyat seperti bajigur, rebusan jagung, kacang, pisang, dan beberapa makanan ringan yang turut memeriahkan malam keakraban FMSC. Layaknya malam keakraban, ada beberapa penampilan-penampilan setiap angkatan untuk memeriahkan acara disertai beberapa penampilan video kegiatan-kegiatan FMSC selama satu tahun kebelakang. Kehangatan, kemeriahan dalam kesederhanaan, kebersamaan dan kekeluargaan yang begitu erat sangat terlihat disetiap crew, dimana semua angkatan saling membaur, dan menyatu.



Crew FMSC all angkatan dengan Pak Abud



Sharing dengan Pak Abud


Penampilan Angkatan 46



Penampilan angkatan 47

Friday, November 15, 2013

Nanjak Bareng Gunung Gede 2013

Crew FMSC emang nggak pernah kehabisan ide buat melakukan kegiatan. Termasuk kegiatan yang satu ini, pasca UTS (Ujian Tengah Semester) para crew ternyata sudah mempersiapkan tempat buat melepaskan penat setelah dua minggu berkutat dengan soal soal ujian. Suasana sejuk silih berganti dingin, pandangan mata yang terhalang kabut, tidak menyurutkan mereka untuk tetap melangkah ke puncak yang paling tinggi. Siapa sih yang nggak tau Gunung Gede Pangrango ? Yups, Gunung ini termasuk obyek yang wajib di kunjungi untuk para pecinta alam terutama domisili Bogor (apalagi IPB) dan sekitarnya, hanya dibutuhkan waktu beberapa jam saja untuk bisa sampai ke lokasi yang terletak di Cianjur Jawa Barat ini.
Selama dalam perjalanan, dimanjakan dengan pemandangan pemandangan yang luar biasa eloknya semakin menambah kebersamaan dan kehangatan keluarga crew FMSC ini. 
Alam memang selalu mengajarkan kita untuk lebih bersyukur pada Sang Pencipta, nikmat, karunia, dan rizki yang diberikan kali ini benar benar dirasakan awak crew. Dan alam semakin menambah rasa kebersamaan, kehangatan, kekeluargaan, dan persahabatan yang terjalin diantara para crew :)

"Semoga kedepannya, FMSC terus selalu, lebih, dan makin kompak !"






Wednesday, November 13, 2013

Game Monopoli = Kebakaran Hutan dan Lahan



Sekedar berbagi informasi ijin mengutip dari web sebelah mengulik fakta yang unik tentang api dan hutan,  tentang bisnis dan 'asap', tentang yang benar dan yang dibenar benarkan.. serta tentang kita sebagai forester...


Pernah dengar permainan monopoli ? kapan terakhir kali memainkannya ? Permainan ini memiliki aturan yang rumit, terkadang mendapatkan hukuman seperti penjara dan membayar pajak. Terkadang para pemain membuat aturan mereka sendiri menyederhanakan pola permainannya terutama saat terkena hukuman. 

"Asap yang terjadi akibat kebakaran lahan dan hutan menginggatkan kita akan permainan ini. Bidak-bidak perusahaan lokal, nasional dan dari Negara tetangga telah terisi dengan bermancam aktifitas baik perusahaan bidang perkebunan maupun perusahaan bidang kehutanan serta perusahan tambang dengan berkedok investasi yang beragam serta penyertaan modal dari yang kecil hingga yang besar. Permainan monopoli ini terlihat pertandingan yang tidak seimbang dimana pemain ke-1 telah memonopoli papan permainan. Pemain ke-2 berasal dari pengusaha dari negeri Malaysia dan Singapura seakan-akan tidak pernah mau kalah dalam permainan ini. Papan catur permainan monopoli adalah bergambar peta Provinsi Riau dengan tema Mengusai Hutan Gambut Riau. Permainan monopoli di Hutan Gambut Riau ini telah menguasai seluruh hutan Riau dengan mengunakan group besar yang tercipta perusahaan-perusahaan dengan nama berbeda, tetapi BOS nya satu.

Pemenang  telah membuat strategi dalam permainan ini, dimana dalam game ini Bandar atau wasit nya adalah Pemerintah Indonesia yang  terus kalah nasibnya. Bisa dibayangkan, mereka dengan sengaja membakar lahan dan hutan akan tetapi yang harus menanggung  adalah Pemerintah Indonesia yang berperan sebagai Bandar/ wasit permainan ini yang harus mengeluarkan dana Rp 100 milyar  untuk memadamkan api yang sengaja membakar lahan dan hutan guna memperirit pengeluaran biaya mereka" -mongabay

so what do you think ?  what should we do? *just ask tou your self, hey 'forester' * 

Tuesday, November 12, 2013

Fieldtrip Garut-Tasik

Belajar terbuka dengan alam memang bukan lagi menjadi hal yang tabu bagi Fakultas Kehutanan. Manajemen Hutan sendiri kemarin telah melaksanakan 'gaya' baru metode belajar diluar kelas kuliah dan responsi atau praktikum, khususnya kepada angkatan 48 (semester 5). Dr. Soni Trison S.Hut M.si memaparkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu tambahan fasilitas proses perkuliahan mahasiswa guna mengembangkan ide, gagasan, serta keterbukaan pengetahuan mahasiswa  yang lebih nyata dilapangan. Output yang dihasilkan dari program ini adalah diantaranya mahasiswa Manajemen Hutan mampu mengaplikasikan teori teori yang selama ini sudah dipelajari dalam perkuliahan. 

Kegiatan fieldtrip ini berlangsung pada tanggal 19-20 Oktober 2013 sebelum Ujian Tengah Semester berlangsung. Agenda berkaitan dengan mata kuliah yang terkait adalah Pemanenan Hutan yang diaplikasikan pada Perhutani KPH Kabupaten Garut dan KPH Tasikmalaya. Dimana disana mahasiswa mengetahui lebih 'real' proses penyadapan getah pinus (Pinus merkusii) dalam areal hutan lindung yang dikelola Perhutani KPH Garut bersama masyarakat setempat. Bagaimana pengelolaan hutan lindung secara lestari dengan memperhatikan aspek ekologi, ekonomi, sosial, dan budayanya. Mahasiswa juga diperlihatkan bagaimana suatu bentuk pohon dimanfaatkan hingga bernilai ekonomi tinggi hanya dengan sebatang atau lebih dari kayu kayu hasil penebangan pohon mahoni (Swietenia mahagoni) di KPH Tasikmalaya atau disebut juga tempat pengumpulan kayu. 

Selain berhubungan dengan kayu, fieldtrip Garut-Tasik ini juga, mengambil aspek sosial budaya masyarakat adat. Bagaimana sistem, atau cara mereka melestarikan hutan yang mereka miliki namun tetap dapat memenuhi kebutuhan akan barang barang hasil hutan tanpa menyebabkan kerusakan pada hutan mereka, adalah suatu kampung yang diberi nama sebagai "Kampung Naga Neglasari". Di jaman yang sudah semua hampir tersentuh teknologi ini, masih terdapat satu kampung di Jawa Barat yang tetap mempertahankan budayanya, tradisinya, dan gaya hidupnya yang benar benar tradisional tanpa campur tangan 'teknologi'.

Mahasiswa dijelaskan secara langsung oleh narasumber yang bersangkutan yang ahli dengan bidangnya. Selain itu, mahasiswa 48 juga mendapat kesempatan untuk bertemu dengan alumni alumni IPB yang menjabat sebagai kepala kepala pemerintahan di Kabupaten Garut. Merupakan suatu bentuk wujud nyata kepada mahasiswa tentang gambaran pekerjaan dimasa depan sekaligus sebagai motivasi terhadap diri masing masing.

"Suatu terobosan baru dari departemen, semoga kegiatan kegiatan seperti ini tetap berlangsung terus tidak hanya di taun kami saja. Banyak manfaatnya banyak ilmu yang bisa menjadi tambahan pengetahuan selain dari teori dosen dan praktikum ataupun responsi"


                                   foto bersama Adm, Asper KPH Kabupaten Garut






Friday, November 1, 2013

Pemetaan Desa Kiarasari

Seperti yang telah disinggung di entry post sebelumnya mengenai kegiatan pemetaan KS Perencanaan FMSC, terdapat dua kegiatan pemetaan yang dilakukan oleh KS perencanaan pada tahun 2013 ini. Pada entry sebelumnya telah diceritakan mengenai kegiatan pemetaan di Desa Pasirmadang. Kegiatan pemetaan kedua dilakukan di Desa Kiarasari, Bogor. Desa ini berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak sehingga udara di desa tersebut masih segar dan kondisi lingkungannya pun masih asri. Kegiatan pemetaan ini merupakan kegiatan kerja sama dengan Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) untuk memetakan lahan rakyat milik petani di desa ini. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 28 - 29 September 2013. Kegiatan ini dilakukan oleh KS Perencanaan FMSC dengan peserta yaitu, Lili, Riyma, Roby, dan Arif. Pada kegiatan pemetaan ini, pengambilan data di lapangan (proses marking) dilakukan oleh masyarakat sendiri. KS Perencanaan di sini hanya membantu mengenalkan cara penggunaan GPS dan juga menemani masyrakat dalam melakukan pemetaan, serta melakukan pengolahan data.

Kegiatan ini dimulai dari keberangkatan dari 'kantor' FMSC pukul 17.00 dengan angkot dan akses menuju desa dilanjutkan dengan menggunakan mobil jemputan yang telah disediakan oleh masyarakat desa Kiarasari. Akses jalan menuju Desa Kiarasari sangat berkelok-kelok sehingga bagi yang tidak terbiasa dengan jalanan seperti ini bisa terkena pusing dan mabuk darat. Kata salah satu warga disana, “ini adalah ciri khas Kiarasari, jalannya berkelok2. Jalanan ini sudah ada dan dibangun sejak jaman Belanda dulu”. Pada hari yang sama pula diberikan pengarahan mengenai penggunaan GPS, berupa simulasi marking dan treking.

Hari berikutnya kegiatan pemetaan dilakukan oleh masyarakat sendiri. Keingintahuan dan keinginan belajar yang tinggi dari masyarakat membuat masyarakat cepat paham dalam melakukan penggunaan GPS. Kegiatan pengambilan data di lapangan tidak berlangsung terlalu lama. Pada pukul 14.00 mahasiswa telah kembali ke kampus.

Kegiatan selanjutnya dilakukan pengolahan data. Pengolahan data dilakukan dilakukan di 'kantor' FMSC. Kegiatan pengolahan data ini dilakukan selama lima hari dan dengan menggunakan perangkat lunak yang sama dengan pemetaan pasir madang. Hasil output yang diperoleh adalah peta kepemilikan lahan oleh masing - masing petani.

Nah, berikut dokumentasi kegiatan di lapangan,






arif mukanya gak dikontrol nih hehe




antusias banget bapa bapa kita ini :)






buat refreshing dan wisata desa kiarasari oke punya loh :)

Artikel oleh: Riyma Maysa & FMSC
Dokumentasi: Riyma Maysa